Paparkan Moderasi Beragama, Peneliti PADMA Indonesia Sebut Islam Wasathiyah Solusi Hadapi Ekstremisme
Menyampaikan materi dalam kegiatan Sosialisasi Moderasi Beragama bersama DPRD Jatim F-PAN Husnul Aqib, Peneliti PADMA Indonesia Almuslimun dan Muhammad Manu menyebut bahwa Islam Wasathiyah adalah solusi menghadapi ekstremisme. Bicara di depan undangan dari perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik dan jajaran pengurus PAN Gresik di Hotel Horison (17/3) dua peneliti utama PADMA Indonesia ini mengajak untuk memperkuat praktik keberagaman yang toleran.
Kabupaten Gresik memiliki karakter unik sebagai kota santri sekaligus kawasan industri yang dihuni masyarakat heterogen, baik dari kalangan urban maupun rural. Kondisi ini dinilai menjadi potensi besar dalam membangun harmoni sosial, meski di sisi lain juga menghadirkan tantangan, terutama di era digital yang ditandai dengan maraknya polarisasi dan disinformasi.
Dalam pemaparan yang disampaikan oleh peneliti Padma Indonesia, Muhammad Manu, pemahaman terhadap situasi sosial Gresik menjadi langkah penting dalam memperkuat moderasi beragama. Pendekatan ini menekankan sikap toleransi, keseimbangan, serta penghargaan terhadap perbedaan, yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Secara sosial, masyarakat Gresik terdiri dari berbagai kelompok seperti komunitas pesantren, pekerja industri, petani, hingga nelayan. Keberagaman ini saling melengkapi dan memperkuat struktur sosial, dengan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai penjaga keseimbangan dan harmoni,” ujar Manu.
Moderasi beragama sendiri dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan praktik dalam beragama yang tidak ekstrem, baik ke kiri maupun ke kanan. Indikatornya antara lain tercermin dari komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, serta kemampuan mengakomodasi budaya lokal.
Namun demikian, sejumlah kerawanan sosial masih menjadi perhatian di Kabupaten Gresik, termasuk isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain itu, pengaruh era digital turut memperbesar tantangan melalui penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fenomena echo chamber, serta rendahnya literasi digital, khususnya di kalangan generasi muda.
Dalam konteks ini, peran tokoh agama dan pesantren menjadi sangat strategis, terutama dalam menanamkan nilai toleransi, menjadi mediator konflik sosial, serta menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui dakwah yang menyejukkan. Di sisi lain, pemerintah daerah terus mendorong penguatan moderasi beragama melalui berbagai program, termasuk optimalisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), kebijakan inklusif, serta penguatan regulasi berbasis toleransi.
“Partisipasi masyarakat dan pemuda juga dinilai krusial sebagai agen perdamaian sosial. Upaya ini diwujudkan melalui peningkatan literasi digital, gerakan anti-hoaks, penguatan komunitas lintas agama, serta aktivisme sosial berbasis budaya lokal,” tambah Almuslimun.
Keduanya menyebut, konsep moderasi beragama yang juga diusung Muhammadiyah menekankan prinsip wasathiyah, yakni bersikap tegas namun terbuka, menghargai perbedaan, menolak sikap saling mengkafirkan, serta mendorong kemajuan dan kemaslahatan masyarakat.
Sebagai penutup, ditegaskan bahwa moderasi beragama merupakan kebutuhan bersama bagi masyarakat Gresik dalam menjaga harmoni sosial. Sinergi berkelanjutan antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam merawat keberagaman demi terciptanya perdamaian sosial.[]