Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PADMA Indonesia PADMA Indonesia

Pusat Aksi dan Studi Pemberdayaan Indonesia

PADMA Indonesia PADMA Indonesia

Pusat Aksi dan Studi Pemberdayaan Indonesia

  • Home
  • Tentang Padma Indonesia
    • Profil Padma Indonesia
    • Dewan Pengurus
    • Legalitas PADMA Indonesia
  • Informasi
    • Kemitraan
    • Opini
    • Kegiatan
    • Statistik
  • Pengumuman
  • Home
  • Tentang Padma Indonesia
    • Profil Padma Indonesia
    • Dewan Pengurus
    • Legalitas PADMA Indonesia
  • Informasi
    • Kemitraan
    • Opini
    • Kegiatan
    • Statistik
  • Pengumuman
Close

Search

Opini

Di Balik Secangkir Kopi: Membaca Cangkruk sebagai Cermin Relasi Gender di Gresik

By admin
July 22, 2026 6 Min Read
0

Ahmad Faizin Karimi ~ PADMA Indonesia

Meski Subuh baru saja berlalu, tapi sebagian warung kopi di Gresik biasanya sudah dipenuhi pelanggan. Tak peduli di desa atau kota, tepi sawah atau samping pabrik. Di atas meja, gelas-gelas kopi hitam mengepulkan uap tipis, ditemani obrolan tentang dinamika politik, harga sembako, sepak bola, hingga ngrasani temannya.

Menjelang siang, wajah pengunjung berganti. Sopir truk, pedagang, mahasiswa, dan pekerja lepas singgah untuk melepas penat. Ketika malam tiba, warung-warung itu juga kembali hidup. Kursi-kursi kayu nyaris tak pernah kosong hingga lewat tengah malam. Percakapan berpindah dari satu meja ke meja lain, sementara secangkir kopi sering kali bertahan lebih lama daripada topik yang dibicarakan.

Di Gresik, warung kopi bukan sekadar tempat menjual minuman. Ia adalah ruang sosial yang nyaris tak pernah tidur. Dari desa-desa pesisir hingga kawasan perkotaan, warung kopi menjadi titik temu warga dari berbagai latar belakang. Buruh duduk sejajar dengan pengusaha. Nelayan bercengkerama dengan aparatur desa. Tidak ada tata tempat, tidak ada protokol. Yang ada hanyalah percakapan ngalor-ngidul diselingi gelak tawa.

Masyarakat Jawa Timur menyebut tradisi itu sebagai cangkruk atau cangkrukan—duduk santai sambil berbincang tanpa agenda resmi. Di wilayah lain, praktik serupa memiliki ekspresi yang berbeda. Masyarakat Jawa mengenal jagongan, yakni kebiasaan duduk bersama sambil bertukar cerita. Di Yogyakarta, aktivitas serupa banyak menemukan ruangnya di angkringan, bukan sebagai nama aktivitasnya, melainkan sebagai institusi sosial tempat percakapan berlangsung.

Perbedaan istilah itu menunjukkan bahwa hampir setiap masyarakat memiliki ruang sosial informalnya sendiri. Sosiolog Amerika Ray Oldenburg menyebut ruang seperti ini sebagai third place—tempat yang berada di luar rumah dan tempat kerja, tempat orang membangun hubungan sosial secara sukarela. Di ruang-ruang semacam inilah kepercayaan tumbuh, informasi beredar, solidaritas terbentuk, bahkan peluang ekonomi sering kali lahir dari percakapan yang tampak sepele.

Dalam perspektif Robert Putnam, ruang informal seperti warung kopi merupakan tempat terbentuknya modal sosial (social capital). Bukan uang atau jabatan yang menjadi mata uang utama, melainkan rasa saling percaya, jaringan pertemanan, dan kebiasaan bertemu secara berulang. Karena itu, cangkruk tidak hanya dapat dipahami sebagai kebiasaan mengisi waktu senggang. Ia adalah mekanisme sosial yang membantu masyarakat menjaga kohesi, membangun jejaring, dan memperkuat kehidupan komunal.

Namun, di balik romantisme budaya itu, ada satu pertanyaan yang jarang muncul. Siapa sebenarnya yang memiliki waktu untuk cangkruk?

Ketika Waktu Luang Menjadi Sumber Daya

Dalam kehidupan sehari-hari, waktu luang sering dipahami sebagai sisa waktu setelah bekerja. Akan tetapi, kajian Leisure Studies memandangnya secara berbeda. Waktu luang adalah sumber daya sosial. Kesempatan untuk bersantai, berkumpul, atau mengejar hobi tidak dimiliki semua orang dalam kadar yang sama. Distribusinya dipengaruhi oleh kelas sosial, jenis pekerjaan, usia, dan relasi gender.

Dengan cara pandang ini, cangkruk bukan lagi sekadar aktivitas minum kopi. Ia menjadi salah satu bentuk penggunaan waktu luang yang mencerminkan bagaimana masyarakat membagi waktu, tanggung jawab, dan kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Di sinilah persoalan mulai menarik. Jika warung kopi (khususnya tradisional) hampir setiap malam dipenuhi laki-laki, apakah itu semata-mata karena laki-laki lebih menyukai cangkruk? Ataukah mereka memang memiliki keleluasaan waktu yang lebih besar dibanding perempuan?

Kesenjangan yang Bernama Waktu

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kesenjangan gender tidak hanya terjadi pada pendapatan atau jabatan, tetapi juga pada kepemilikan waktu.

Laporan The Free-Time Gender Gap dari Gender Equity Policy Institute menganalisis data American Time Use Survey 2022 dan menemukan pola yang konsisten. Perempuan menghabiskan lebih banyak waktu daripada laki-laki untuk mengasuh anak serta melakukan pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar, seperti memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah. Bersamaan dengan itu, muncul kesenjangan waktu luang. Hampir di setiap kelompok yang diteliti, perempuan memiliki waktu lebih sedikit daripada laki-laki untuk bersosialisasi, bersantai, maupun mengejar minat dan hobi.

Fenomena tersebut tidak berbeda dengan kondisi di Indonesia. Analisis terhadap data Susenas 2012 menunjukkan sekitar 30 persen penduduk Indonesia setiap hari melakukan pekerjaan pengasuhan atau perawatan yang tidak dibayar, dan 80 persen di antaranya adalah perempuan. Artinya, beban kerja domestik masih sangat bertumpu pada perempuan.

Temuan tersebut diperkuat oleh kajian OECD (2014) yang menunjukkan bahwa perempuan di kawasan Asia Timur dan Pasifik menghabiskan sekitar lima jam setiap hari untuk pekerjaan pengasuhan dan rumah tangga yang tidak dibayar. Sebaliknya, laki-laki menghabiskan kurang dari dua jam untuk aktivitas seperti mengasuh anak, memasak, atau membersihkan rumah. Dalam skala global, perempuan menghabiskan waktu dua hingga sepuluh kali lebih banyak untuk pekerjaan pengasuhan tanpa upah dibanding laki-laki.

Gambaran yang lebih rinci muncul dalam studi Perkumpulan Prakarsa dan Oxfam (2018) di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Penelitian itu menemukan bahwa perempuan mencurahkan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan domestik tanpa upah, tetapi tetap memberikan kontribusi yang besar terhadap pekerjaan produktif. Sebaliknya, laki-laki relatif jarang terlibat dalam pekerjaan pengasuhan. Kalaupun terlibat, rata-rata hanya sekitar satu hingga dua jam setiap hari.

Bahkan, pada salah satu desa lokasi penelitian, laki-laki hanya bekerja produktif sekitar lima jam sehari. Selebihnya, sekitar enam belas jam digunakan untuk aktivitas pribadi dan istirahat, sementara hanya dua jam dialokasikan untuk pekerjaan pengasuhan. Data-data tersebut menunjukkan satu hal yang sama. Perempuan bukan hanya bekerja. Mereka juga mengerjakan pekerjaan yang sering kali tidak dihitung sebagai kerja.

Membaca Warung Kopi dengan Kacamata Gender

Jika waktu luang merupakan sumber daya yang tidak terdistribusi secara merata, maka akses terhadap budaya cangkruk pun kemungkinan tidak sepenuhnya setara. Seseorang hanya dapat duduk dua atau tiga jam di warung kopi ketika pekerjaan lain telah selesai. Atau, ketika pekerjaan itu dikerjakan oleh orang lain.

Dalam banyak rumah tangga, perempuan masih menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik. Makan malam harus disiapkan, pakaian harus dicuci, anak harus ditemani belajar, rumah harus dibereskan. Tanggung jawab semacam ini membuat waktu luang perempuan sering hadir dalam jeda-jeda pendek, bukan dalam percakapan panjang di warung kopi.

Karena itu, rendahnya keterlibatan perempuan dalam budaya cangkruk tradisional tidak dapat serta-merta dibaca sebagai persoalan preferensi. Sangat mungkin persoalannya justru terletak pada kesempatan.

Gresik menghadirkan contoh yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang memanfaatkan kafe modern sebagai ruang bertemu, berdiskusi, atau bekerja. Pemandangan kelompok perempuan berkumpul di kedai kopi modern bukan lagi sesuatu yang asing.

Namun, jika kita bergeser ke warung kopi tradisional, komposisinya masih jauh berbeda. Sebagian besar pengunjung tetap didominasi laki-laki. Fenomena ini belum cukup untuk membuktikan adanya ketimpangan gender dalam penggunaan waktu luang di Gresik. Akan tetapi, ia menghadirkan pertanyaan yang layak diteliti lebih jauh.

Apakah dominasi laki-laki dalam budaya cangkruk mencerminkan pembagian kerja domestik yang masih timpang? Ataukah terdapat faktor-faktor lain seperti norma budaya, rasa aman di ruang publik, pola kerja, atau preferensi sosial yang turut memengaruhinya?

Secangkir Kopi dan Pengeluaran Rumah Tangga

Ada lapisan lain yang jarang dibicarakan. Cangkruk hampir selalu melibatkan konsumsi. Secangkir kopi, sebungkus rokok, makanan ringan, atau sekadar parkir kendaraan mungkin terlihat sebagai pengeluaran kecil. Namun jika dilakukan hampir setiap hari, nilainya menjadi tidak sedikit.

Di sinilah muncul pertanyaan lain yang menarik. Jika laki-laki berumah tangga lebih sering cangkruk dibanding perempuan, apakah mereka juga memiliki pengeluaran personal yang lebih besar? Jika benar demikian, mungkinkah budaya cangkruk menjadi salah satu representasi kultural dari ketimpangan pengeluaran dalam rumah tangga?

Pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban empiris. Di satu sisi, pengeluaran untuk cangkruk memang dapat meningkatkan belanja pribadi laki-laki. Di sisi lain, aktivitas tersebut juga menghasilkan manfaat yang sulit diukur secara ekonomi. Relasi sosial yang terbangun di warung kopi dapat membuka peluang usaha, memperluas akses informasi, memperkuat jaringan kerja, bahkan menjadi ruang musyawarah informal bagi masyarakat.

Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan mungkin bukan sekadar konsumsi, melainkan investasi sosial. Karena itu, hubungan antara budaya cangkruk dan ketimpangan pengeluaran lebih tepat diposisikan sebagai hipotesis penelitian daripada kesimpulan.

Paradoks Kebahagiaan

Menariknya, berbagai temuan mengenai ketimpangan waktu tersebut tidak selalu berjalan searah dengan ukuran kebahagiaan. Indeks Kebahagiaan Indonesia 2021 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa nilai penggunaan waktu luang laki-laki mencapai 75,35 poin, sedangkan perempuan 76,37 poin pada subdimensi kepuasan hidup sosial.

Dengan kata lain, perempuan justru sedikit lebih tinggi tingkat kepuasannya terhadap penggunaan waktu luang dibanding laki-laki.

Temuan ini mengingatkan bahwa banyaknya waktu luang tidak selalu identik dengan tingginya kebahagiaan. Cara seseorang memaknai waktu, kualitas hubungan sosial, nilai budaya, dan ekspektasi terhadap peran dalam keluarga turut memengaruhi bagaimana ia menilai kehidupannya.

Namun, temuan tersebut juga tidak dapat dijadikan pembenaran atas ketimpangan pembagian kerja domestik. Kepuasan bersifat subjektif, sedangkan distribusi waktu merupakan fakta objektif yang dapat diukur.

Cangkruk sebagai Representasi ketimpangan?

Pada akhirnya, cangkruk tidak layak dipandang sebagai penyebab ketimpangan gender. Tradisi ini justru memiliki banyak nilai sosial. Ia memperkuat kohesi masyarakat, memperluas jejaring, menjadi ruang pertukaran informasi, bahkan menjaga kehidupan komunal di tengah masyarakat yang semakin individual.

Akan tetapi, budaya selalu tumbuh di atas struktur sosial. Jika sebagian besar orang yang memiliki keleluasaan untuk duduk berjam-jam di warung kopi adalah laki-laki, sementara sebagian besar perempuan masih menghabiskan waktu luangnya untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar, maka warung kopi sesungguhnya sedang memantulkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar budaya nongkrong. Ia memantulkan bagaimana waktu didistribusikan. Ia memantulkan bagaimana pekerjaan domestik dibagi. Dan mungkin, ia juga memantulkan bagaimana sumber daya ekonomi digunakan di dalam rumah tangga.

Warung kopi memang memperlihatkan siapa yang hadir. Namun, pertanyaan yang lebih penting justru tentang siapa yang tidak sempat datang. Barangkali, di situlah secangkir kopi berubah menjadi sebuah cermin—bukan hanya bagi budaya cangkruk di Gresik, tetapi juga bagi cara masyarakat memaknai waktu, kerja, dan kesetaraan.

Bagaimana menurut anda?

Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Pemahaman Gender Berubah Mengikuti Dinamika Sosial: Catatan Reflektif Diskusi I Studi Gender Multiperspektif

Next

Membincang Kodrat vs Konstruksi Sosial: Diskusi Gender II Ajak Masyarakat Baca Ulang Peran Perempuan dalam Kebudayaan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liputan Media

  • Afederasi - Liputan Permata Gel. 1
  • Radar Gresik - - Liputan MoU Padma Indonesia & UMG
  • PWMU - Liputan MoU Padma Indonesia & UMG
  • Berita Jatim - Liputan Permata Gel. 1
  • Radar Gresik - Liputan Permata Gel. 1
  • Viva - Liputan Permata Gel. 1

Artikel Terbaru

  • Membincang Kodrat vs Konstruksi Sosial: Diskusi Gender II Ajak Masyarakat Baca Ulang Peran Perempuan dalam Kebudayaan
  • Di Balik Secangkir Kopi: Membaca Cangkruk sebagai Cermin Relasi Gender di Gresik
  • Pemahaman Gender Berubah Mengikuti Dinamika Sosial: Catatan Reflektif Diskusi I Studi Gender Multiperspektif
  • Padma Indonesia dan Diskominfo Pemkab Gresik Perkuat Kolaborasi Konten Kreator Bawean
  • Memperkuat Demokrasi di Akar Rumput melalui e-Voting
  • PADMA Indonesia Berdayakan Perempuan Gresik di Hari Janda Internasional: Dorong Kemandirian Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
  • Permata Gelombang 1: Pelatihan Produksi dan Pendampingan Kelembagaan Usaha Perempuan
  • UMG dan PADMA Indonesia Perkuat Kolaborasi untuk Keilmuan dan Pemberdayaan
  • Pentingnya Serah Terima PSU Demi Memenuhi Hak Publik
  • Padma Indonesia dan LHKP PP Muhammadiyah Gandeng Komunitas Serukan Gerakan “Reinventing Muhammadiyah” Lewat Tulisan
Copyright 2026 — PADMA Indonesia. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme