Padma Indonesia dan Diskominfo Pemkab Gresik Perkuat Kolaborasi Konten Kreator Bawean
Malam telah turun di Pulau Bawean. Namun suasana di ruang pertemuan Hotel Miranda Sangkapura, Jumat (10/7/2026), justru semakin hangat. Belasan orang duduk melingkar, larut dalam diskusi yang mengalir tanpa sekat. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada pegiat media, penulis, pendidik, kepala desa, hingga pengelola media sosial yang selama ini aktif menyebarkan informasi kepada masyarakat.
Masing-masing membawa pengalaman. Masing-masing pula menyimpan harapan yang sama, bagaimana informasi tentang Bawean dan pelayanan publik dapat tersampaikan lebih luas, lebih akurat, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi para pembuat konten.
Pertemuan yang digelar Padma Indonesia bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Gresik itu bukan sekadar forum berbagi pengalaman. Diskusi sekaligus menjadi langkah awal penguatan kapasitas konten kreator serta inisiasi pembentukan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di Pulau Bawean.
Kepala Bidang Statistik dan Informasi Publik (SIP) Diskominfo Gresik, Zurron Arifin, mengatakan Pemerintah Kabupaten Gresik telah memiliki ekosistem diseminasi informasi yang cukup lengkap. Meski demikian, keterlibatan masyarakat tetap menjadi faktor penting agar berbagai kebijakan, program, dan capaian pembangunan dapat menjangkau lebih banyak warga.
“Ekosistem diseminasi informasi Pemkab Gresik sudah lengkap. Namun optimalisasi jangkauan informasi tetap memerlukan peran serta masyarakat. Terutama para pegiat media untuk menyampaikan informasi kebijakan, kinerja, dan program pemerintahan,” ujarnya.
Menurutnya, peran konten kreator kini tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi garda depan dalam melawan hoaks, disinformasi, maupun ujaran kebencian yang masih kerap muncul di tengah masyarakat, terutama terkait pelayanan publik.
Diskusi malam itu semakin hidup ketika Abdul Basith, pengelola akun Media Bawean, membagikan kisahnya. Akun yang ia kelola kini telah menjadi salah satu rujukan informasi bagi masyarakat Bawean, baik yang tinggal di pulau maupun yang merantau ke berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Di balik unggahan-unggahan informatif yang rutin ia buat, ternyata tersimpan peluang ekonomi yang menjanjikan. Basith mengaku aktivitas tersebut mampu memberikan tambahan penghasilan.
“Kuncinya adalah konsistensi. Buat konten yang memiliki nilai informasi dan jalankan secara konsisten,” tuturnya.
Cerita itu membuka perspektif baru bagi peserta lain. Nur Laily, Kepala SD Muhammadiyah Sangkapura, melihat media sosial bukan hanya sebagai sarana publikasi sekolah, tetapi juga peluang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mendukung berbagai kegiatan pendidikan.
“Akun media sosial sekolah kami bisa kami tingkatkan nantinya. Lumayan buat nambah pendapatan untuk kegiatan kami,” ungkap guru asal Ujungpangkah tersebut.
Bagi sebagian peserta, malam itu menjadi titik awal lahirnya semangat baru. Mereka menyadari bahwa konten yang berkualitas bukan sekadar mengejar jumlah penonton, melainkan mampu menghadirkan informasi yang bermanfaat, membangun kepercayaan publik, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
Pemantik diskusi dari Padma Indonesia, Ahmad Faizin, mengajak seluruh konten kreator untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, kolaborasi, penguatan jejaring, dan penataan kelembagaan akan membuat para kreator lebih mudah berkembang, memperoleh pelatihan, serta menjadi mitra strategis dalam penyebaran informasi publik.
Semangat itulah yang kemudian melahirkan satu kesepakatan bersama. Para peserta sepakat membentuk komunitas konten kreator Bawean sebagai wadah koordinasi, berbagi pengalaman, dan peningkatan kapasitas di masa mendatang.
Dari sebuah diskusi sederhana pada Jumat malam, tumbuh optimisme bahwa Pulau Bawean tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga melalui karya-karya digital yang informatif, kreatif, dan mampu menghubungkan masyarakat Bawean di mana pun mereka berada.