Pemahaman Gender Berubah Mengikuti Dinamika Sosial: Catatan Reflektif Diskusi I Studi Gender Multiperspektif
Di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar di Meeting Room Universitas Muhammadiyah Gresik, Rabu (15/7/2026), perdebatan berlangsung tanpa meninggikan suara. Tidak ada tepuk tangan, tidak pula seremoni. Yang terdengar justru saling menyambung argumentasi, membuka referensi, lalu menguji kembali setiap gagasan yang muncul.
Meja-meja dipenuhi catatan, buku, dan laptop yang sesekali menampilkan hasil pencarian literatur. Diskusi mengalir dari satu perspektif ke perspektif lain. Para peserta tampak berhati-hati memilih istilah, sebab mereka sepakat, satu kata yang keliru dapat mengubah cara sebuah konsep dipahami.
Hari itu, tim Pusat Studi Gender Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) bersama tim Pusat Aksi dan Studi Pemberdayaan (PADMA) Indonesia berkumpul untuk menyusun buku Studi Gender Multiperspektif. Sebuah buku yang diharapkan tidak sekadar menjadi kumpulan teori, tetapi mampu menjadi ruang dialog antara perkembangan ilmu pengetahuan, realitas sosial, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Diskusi ini merupakan pertemuan pertama dari beberapa diskusi dalam rangka penyusunan buku Studi Gender Multiperspektif tersebut.
Diskusi dipantik oleh Ketua PADMA Indonesia, Abdullah Sidiq Notonegoro, yang mengajak peserta melihat gender sebagai konsep yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Menurutnya, pemahaman mengenai gender tidak pernah berdiri dalam ruang yang statis. Ia selalu bergerak mengikuti dinamika masyarakat yang melahirkannya.
“Ketika masyarakat berubah, cara pandangnya terhadap gender juga ikut berubah. Pada masyarakat agraris, pembagian peran laki-laki dan perempuan memiliki karakter yang berbeda. Memasuki era industrial, relasi itu kembali mengalami penyesuaian. Kini, ketika kita hidup di tengah masyarakat informasi dan digital, pemahaman mengenai gender kembali mengalami pergeseran,” ujarnya.
Ia menilai perubahan sosial selalu menghadirkan tantangan baru bagi dunia akademik. Karena itu, kajian mengenai gender perlu terus diperbarui agar tetap mampu menjelaskan realitas yang berkembang, tanpa kehilangan pijakan ilmiah. Gagasan tersebut menjadi titik awal diskusi yang kemudian berkembang ke berbagai perspektif, mulai dari sosiologi, budaya, pendidikan, hingga pendekatan keagamaan.
Ketua Pusat Studi dan Inovasi UMG, Umaimah, menegaskan bahwa pembahasan mengenai gender tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai yang dianut masyarakat. Menurutnya, setiap kajian ilmiah tetap memerlukan landasan ideologis yang jelas agar mampu memberikan arah dalam membaca fenomena sosial.
“Sebagai masyarakat beragama, pemahaman mengenai gender tidak bisa diposisikan sebagai sesuatu yang bebas nilai. Kita perlu melihatnya melalui ideologi yang kita anut. Karena itu, buku ini akan menggunakan pendekatan yang moderat, tetapi tetap kritis dalam membaca berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat,” jelasnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu menghadirkan ruang akademik yang terbuka terhadap berbagai sudut pandang tanpa kehilangan identitas dan nilai yang menjadi pijakan.
Suasana diskusi pun berlangsung dinamis. Setiap peserta menyampaikan pandangan berdasarkan disiplin ilmu masing-masing. Perbedaan pendapat justru menjadi energi untuk memperkaya isi buku, bukan untuk saling menegasikan.
Bagi kedua lembaga, penyusunan buku Studi Gender Multiperspektif bukan hanya tentang menghasilkan sebuah publikasi ilmiah. Lebih dari itu, buku ini diharapkan menjadi kontribusi akademik yang mampu menghadirkan pembacaan yang lebih utuh terhadap isu gender di Indonesia—sebuah pembacaan yang kritis terhadap perubahan sosial, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai moderasi.
Di tengah cepatnya perubahan masyarakat menuju era digital, diskusi selama beberapa jam itu menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah selesai ditulis. Ia selalu bertumbuh, diperdebatkan, lalu disempurnakan melalui ruang-ruang dialog seperti yang berlangsung siang itu di Universitas Muhammadiyah Gresik.[]