PADMA Indonesia Berdayakan Perempuan Gresik di Hari Janda Internasional: Dorong Kemandirian Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
GRESIK – Bertepatan dengan peringatan Hari Janda Internasional yang jatuh pada 23 Juni, PADMA Indonesia mengambil langkah konkret dalam memperkuat ketahanan ekonomi perempuan rentan di Kabupaten Gresik. Melalui inisiatif pemberdayaan yang kolaboratif, organisasi ini melatih belasan janda dan ibu rumah tangga untuk membangun usaha kuliner mandiri berbasis komoditas buah lokal.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, pada Ahad (14/6/2026) dan dilanjutkan dengan pendampingan hingga kemarin Senin (22/6/2026) yang masih berlangsung ini merupakan manifestasi nyata dari visi PADMA Indonesia dalam menciptakan kemandirian finansial bagi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ketua PADMA Indonesia, Abdullah Sidiq Notonegoro, menegaskan bahwa fokus lembaganya bukan sekadar memberikan keterampilan sesaat, melainkan menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
“Kami hadir untuk memastikan perempuan rentan, termasuk para janda, memiliki kemampuan untuk mandiri secara finansial. PADMA Indonesia tidak hanya memberikan pelatihan teknis pembuatan kue pai, tetapi kami berkomitmen melakukan pendampingan hingga produk tersebut layak jual dan berdaya saing di pasar,” ujar Sidiq Notonegoro.
Lebih lanjut, Sidiq menekankan bahwa PADMA Indonesia akan memfasilitasi seluruh aspek legalitas usaha peserta. Mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga sertifikasi halal akan dikawal agar para pelaku usaha mikro ini dapat menembus pasar yang lebih luas dengan perlindungan hukum yang jelas.
Dalam pelatihan tersebut, PADMA Indonesia bersama Universitas Muhammadiyah Gresik mengedukasi peserta untuk meninggalkan ketergantungan pada buah impor. Peserta diajarkan mengolah buah lokal unggulan seperti nanas, mangga, buah naga, hingga siwalan khas Gresik sebagai topping utama.
Mentor pelatihan, Umaimah, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan strategi PADMA Indonesia untuk menanamkan rasa bangga terhadap potensi daerah. Menurutnya, penggunaan bahan baku lokal tidak hanya meningkatkan nilai ekonomis produk, tetapi juga membantu menggerakkan roda ekonomi petani buah di sekitar Gresik.
Bagi para peserta, program ini menjadi titik balik untuk membangun kemandirian. Istichomah, salah satu peserta, menyatakan bahwa keterampilan yang ia peroleh menjadi modal berharga.
“Harapan kami, keterampilan ini bukan sekadar teori, tetapi menjadi langkah awal untuk membuka usaha di rumah. Dukungan dari PADMA Indonesia membuat kami merasa lebih percaya diri untuk mengelola keuangan keluarga secara mandiri,” ungkapnya.
Melalui pendekatan yang berkelanjutan, PADMA Indonesia berharap para peserta tidak hanya menjadi sekadar produsen, tetapi mampu bertransformasi menjadi pengusaha kuliner yang tangguh, mandiri, dan mampu memanfaatkan potensi lokal untuk kesejahteraan keluarga.